Rabu, 31 Desember 2008

Kenapa Tor Siojo?

Apalah arti sebuah nama, kata beberapa manusia yang menghuni planet ini. Namun saya termasuk yang memberi tempat bagi sebuah nama sebagai sesuatu yang berarti. Nama bisa jadi adalah sebuah untaian doa dalam satu-dua-tiga-atau lebih kata. Bisa juga, nama adalah sebuah tautan pada suatu ketika yang membuat si pemberi nama serasa kembali kepada suatu ketika kala ia memanggil seseorang yang diberinya nama: ibarat pintu yang menghubungkan dua sisi dari keterbatasan masa.


Tor Siojo, adalah sebuah nama yang memiliki arti tersendiri bagi saya.
Tor Siojo adalah sebuah kenangan.
Tor Siojo adalah sebuah kerinduan akan masa kecil yang lincah dan indah.


"Tor" dalam bahasa Mandailing bisa diartikan "Bukit". "Siojo"? Ah, jangan tanyakan padaku apa artinya. Karena kami, bocah-bocah yang gemar mendatangi Tor ini pada suatu ketika di masa lampau, terlanjur mencukupkan diri pada satu pengertian saja: "Tor Siojo adalah tempat kami bermain di siang hari, terutama di hari-hari libur... Tempat kami memungut "Bandol" (biji Karet/Hevea Braziliensis) untuk kemudian diadu. Tempat kami mengambil "Apundung" (buah yang rasanya masam-manis yang hingga kini belum juga kuketahui: "Apa bahasa Indonesianya?"). Tempat kami "mandaisi" (sejenis merujak tapi bukan merujak!)


Ahh...
Terlalu banyak kenangan tentang Tor Siojo ini.
Tor yang berdiri kokoh seakan menantang Bukit Barisan yang tinggi menjulang di seberang sana, di sisi lain Aek (Sungai) Batang Gadis...


Seperti telah penulis kemukakan di awal, nama bisa jadi adalah pintu yang menghubungkan dua sisi dari keterbatasan masa. Tor Siojo adalah nama yang pada akhirnya memberi bekas yang mendalam bagi kehidupan penulis setelah sekian puluh kali menyambanginya di masa lampau. Begitu pun harapannya, semoga kelak, apa yang ada di "Tor Siojo" ini, bisa juga memberikan kenangan baik yang senantiasa membekas di hati pengunjungnya.


"Anso songon Tor Siojo na di Mandailing Julu an ma nian."
(Biar seperti Tor Siojo yang di Mandailing Julu lah harapannya.)






Medan Polonia,
Ikhwan Muslim Nasution

1 komentar:

  1. Gunung yang indah. Saya pernah camping di tor siojo pada 1990.

    BalasHapus