Nama formal akademisnya sebetulnya SD Negeri No. 142618 Kotanopan. SD Sada hanyalah panggilan akrab oleh orang-orang setempat. Mungkin terasa terlalu berjarak menyebut SD ini dalam bahasa formal akademisnya. Masyarakat di Mandailing Julu adalah "masyarakat keluarga", yang dalam keseharian adatnya terikat erat pada Dalihan Natolu: Mora, Kahanggi, dan Anak Boru. Karena itu pula lah mungkin, tanpa bermaksud menggeneralisir keadaan, nama SD ini oleh masyarakat setempat di-Mandailing-kan: biar lebih membumi dengan kehidupan mereka. Sama sekali tidak bisa juga ditafsirkan sebagai penolakan pasif terhadap nama formal/informal terhadap bahasa Indonesia.
SADA dalam bahasa Mandailing berarti SATU dalam bahasa Indonesia. Kenapa disebut SADA? Padahal kalau dilihat dari nama formal akademik sekolah ini, sama sekali tidak tercermin penisbatan terhadap kata SADA. Penulis sendiri hanya bisa menyimpulkan dengan dugaan kuat (ghalabatuz dzhan), kenapa SD ini disebut SD SADA: Karena SD ini merupakan SD pertama yang dibangun di Kotanopan (apakah juga yang pertama di Mandailing Julu?).
SADA dalam bahasa Mandailing berarti SATU dalam bahasa Indonesia. Kenapa disebut SADA? Padahal kalau dilihat dari nama formal akademik sekolah ini, sama sekali tidak tercermin penisbatan terhadap kata SADA. Penulis sendiri hanya bisa menyimpulkan dengan dugaan kuat (ghalabatuz dzhan), kenapa SD ini disebut SD SADA: Karena SD ini merupakan SD pertama yang dibangun di Kotanopan (apakah juga yang pertama di Mandailing Julu?).
Bangunannya masih tampak kokoh.
Desainnya unik.
Bersejarah.
Desainnya unik.
Bersejarah.
Sekolah ini dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda. Sekolah panggung (martaruma) ini terdiri dari bahan kayu yang kuat dan kokoh: meski pada akhirnya semua makhluk akan remuk dimakan zaman. Balok-balok kayu besar menjadi penopang di beberapa sudut. Pintu dan daunnya yang demikian besar dan tinggi. Jendela yang tak kalah besar dan tinggi. Sekan semua ini mengingatkan masyarakat sekitar bahwa orang-orang inlander itu demikian kecil dan pendek di sisi kaum kolonial penjajah Barat yang tinggi besar.
Entah karena alasan apa taruma sekolah ini diperendah. Klo dahulu, menurut cerita orang-orang tua, anak-anak SD ini bisa berlarian ke sana kemari tanpa rasa khawatir kepalanya tersangkut di palang-palang balok yang menahan papan-papan lantai di atasnya, kini anak-anak hanya bisa duduk merunduk di taruma-nya. Bangunan peninggalan kolonial itu kian renta dan pendek.
Di taruma ini lah, sekian tahun yang lalu, penulis turut dalam kelompok-kelompok kecil dalam balutan seragam putih merah, dengan dasi merah berkaret, bersenda gurau. Seakan masih terasa kini, tanah yang seperti tepung coklat di bawah taruma-nya, menyerupai dingin-dingin kue putu.
Kadang-kadang kami main kelereng (kami menyebutnya kaleren), kejar-kejaran sambil merunduk (tak jarang ketika keluar dari taruma kepala sudah benjol-benjol), main gambar-gambar, menangkap suruk-suruk (entah apa nama formalnya), dan tak jarang pula kami masuk taruma hanya untuk berteduh bermalas-malasan.
Aku tidak tau, apakah taruma ini masih sering dimasuki anak-anak sekolah itu. Apakah masih layak dimasuki. Apakah masih seperti yang dulu. Sayang sekali, sewaktu beberapa bulan yang lalu aku berkunjung ke sana, aku melewatkan memeriksa taruma itu. Adakah ia menyimpan potret masa lalu kami, masa kecil kami yang ceria??? (***)
Ditulis di Medan Polonia
Aku tidak tau, apakah taruma ini masih sering dimasuki anak-anak sekolah itu. Apakah masih layak dimasuki. Apakah masih seperti yang dulu. Sayang sekali, sewaktu beberapa bulan yang lalu aku berkunjung ke sana, aku melewatkan memeriksa taruma itu. Adakah ia menyimpan potret masa lalu kami, masa kecil kami yang ceria??? (***)
Ditulis di Medan Polonia