Minggu, 22 Februari 2009

SD SADA KOTANOPAN (1)

Nama formal akademisnya sebetulnya SD Negeri No. 142618 Kotanopan. SD Sada hanyalah panggilan akrab oleh orang-orang setempat. Mungkin terasa terlalu berjarak menyebut SD ini dalam bahasa formal akademisnya. Masyarakat di Mandailing Julu adalah "masyarakat keluarga", yang dalam keseharian adatnya terikat erat pada Dalihan Natolu: Mora, Kahanggi, dan Anak Boru. Karena itu pula lah mungkin, tanpa bermaksud menggeneralisir keadaan, nama SD ini oleh masyarakat setempat di-Mandailing-kan: biar lebih membumi dengan kehidupan mereka. Sama sekali tidak bisa juga ditafsirkan sebagai penolakan pasif terhadap nama formal/informal terhadap bahasa Indonesia.

SADA dalam bahasa Mandailing berarti SATU dalam bahasa Indonesia. Kenapa disebut SADA? Padahal kalau dilihat dari nama formal akademik sekolah ini, sama sekali tidak tercermin penisbatan terhadap kata SADA. Penulis sendiri hanya bisa menyimpulkan dengan dugaan kuat (ghalabatuz dzhan), kenapa SD ini disebut SD SADA: Karena SD ini merupakan SD pertama yang dibangun di Kotanopan (apakah juga yang pertama di Mandailing Julu?).

Bangunannya masih tampak kokoh.
Desainnya unik.
Bersejarah.


Sekolah ini dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda. Sekolah panggung (martaruma) ini terdiri dari bahan kayu yang kuat dan kokoh: meski pada akhirnya semua makhluk akan remuk dimakan zaman. Balok-balok kayu besar menjadi penopang di beberapa sudut. Pintu dan daunnya yang demikian besar dan tinggi. Jendela yang tak kalah besar dan tinggi. Sekan semua ini mengingatkan masyarakat sekitar bahwa orang-orang inlander itu demikian kecil dan pendek di sisi kaum kolonial penjajah Barat yang tinggi besar.

Entah karena alasan apa taruma sekolah ini diperendah. Klo dahulu, menurut cerita orang-orang tua, anak-anak SD ini bisa berlarian ke sana kemari tanpa rasa khawatir kepalanya tersangkut di palang-palang balok yang menahan papan-papan lantai di atasnya, kini anak-anak hanya bisa duduk merunduk di taruma-nya. Bangunan peninggalan kolonial itu kian renta dan pendek.

Di taruma ini lah, sekian tahun yang lalu, penulis turut dalam kelompok-kelompok kecil dalam balutan seragam putih merah, dengan dasi merah berkaret, bersenda gurau. Seakan masih terasa kini, tanah yang seperti tepung coklat di bawah taruma-nya, menyerupai dingin-dingin kue putu.

Kadang-kadang kami main kelereng (kami menyebutnya kaleren), kejar-kejaran sambil merunduk (tak jarang ketika keluar dari taruma kepala sudah benjol-benjol), main gambar-gambar, menangkap suruk-suruk (entah apa nama formalnya), dan tak jarang pula kami masuk taruma hanya untuk berteduh bermalas-malasan.

Aku tidak tau, apakah taruma ini masih sering dimasuki anak-anak sekolah itu. Apakah masih layak dimasuki. Apakah masih seperti yang dulu. Sayang sekali, sewaktu beberapa bulan yang lalu aku berkunjung ke sana, aku melewatkan memeriksa taruma itu. Adakah ia menyimpan potret masa lalu kami, masa kecil kami yang ceria??? (***)


Ditulis di Medan Polonia

Rabu, 31 Desember 2008

Kenapa Tor Siojo?

Apalah arti sebuah nama, kata beberapa manusia yang menghuni planet ini. Namun saya termasuk yang memberi tempat bagi sebuah nama sebagai sesuatu yang berarti. Nama bisa jadi adalah sebuah untaian doa dalam satu-dua-tiga-atau lebih kata. Bisa juga, nama adalah sebuah tautan pada suatu ketika yang membuat si pemberi nama serasa kembali kepada suatu ketika kala ia memanggil seseorang yang diberinya nama: ibarat pintu yang menghubungkan dua sisi dari keterbatasan masa.


Tor Siojo, adalah sebuah nama yang memiliki arti tersendiri bagi saya.
Tor Siojo adalah sebuah kenangan.
Tor Siojo adalah sebuah kerinduan akan masa kecil yang lincah dan indah.


"Tor" dalam bahasa Mandailing bisa diartikan "Bukit". "Siojo"? Ah, jangan tanyakan padaku apa artinya. Karena kami, bocah-bocah yang gemar mendatangi Tor ini pada suatu ketika di masa lampau, terlanjur mencukupkan diri pada satu pengertian saja: "Tor Siojo adalah tempat kami bermain di siang hari, terutama di hari-hari libur... Tempat kami memungut "Bandol" (biji Karet/Hevea Braziliensis) untuk kemudian diadu. Tempat kami mengambil "Apundung" (buah yang rasanya masam-manis yang hingga kini belum juga kuketahui: "Apa bahasa Indonesianya?"). Tempat kami "mandaisi" (sejenis merujak tapi bukan merujak!)


Ahh...
Terlalu banyak kenangan tentang Tor Siojo ini.
Tor yang berdiri kokoh seakan menantang Bukit Barisan yang tinggi menjulang di seberang sana, di sisi lain Aek (Sungai) Batang Gadis...


Seperti telah penulis kemukakan di awal, nama bisa jadi adalah pintu yang menghubungkan dua sisi dari keterbatasan masa. Tor Siojo adalah nama yang pada akhirnya memberi bekas yang mendalam bagi kehidupan penulis setelah sekian puluh kali menyambanginya di masa lampau. Begitu pun harapannya, semoga kelak, apa yang ada di "Tor Siojo" ini, bisa juga memberikan kenangan baik yang senantiasa membekas di hati pengunjungnya.


"Anso songon Tor Siojo na di Mandailing Julu an ma nian."
(Biar seperti Tor Siojo yang di Mandailing Julu lah harapannya.)






Medan Polonia,
Ikhwan Muslim Nasution